facebook

So, here I am..,

starring at your profile..,

sucking up your infos and bios,.

what music you’d prefer to listen.,

what movies you’d like to watch..,

places where you lived your past.,

what you do for living

 

and then you smile to me

(through photos you uploaded).,

you talk to me

(through comments you put on each picture)

I hear you chat with your friends

(through responses you gave)

I see your happiness inside your eyes

(through pictures your’re tagged in)

I try to understand what’s on your mind

(through any status you wrote)

 

and that makes us friend   

Leave a comment

Filed under Humaniora

Modernisme VS Postmodernisme Linguistik Terapan: Sebuah Jalan Tengah

Modernisme VS Postmodernisme Linguistik Terapan: Sebuah Jalan Tengah

Laporan Membaca Artikel Albert Weidenmann “The Redifinition of Applied Linguistics: Modernism and Postmodernism Views”)

Oleh Hendra Nugraha

 

 

Postmodernisme hadir didalam khasanah pemikiran filsafat sebagai reaksi atas positivisme yang berusaha “mempositifkan” semua bidang keilmuan. Kecurigaan atas segala sesuatu yang bersifat mapan dalam filsafat telah dimulai sejak nietzsche memaklumatkan “kematian tuhan” sebagai simbol supremasi absolutisme. Bersamaan dengan “pembunuhan tuhan” ini nietsche juga memalu (sesuai dengan slogannya “befilsafat dengan palu”) pemikiran-pemikuran filsafat yang dianggap mutlak, valid dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Adalah Habermas yang menekuni skeptisisime Nierzschean dan menggabungkkanya dengan kritisisme Marx.

Dalam pandangan Habermas, ilmu pengetahuan didalam positivisme bersigat mutlak, anti-kritik, dan mengecilkan kemanusiaan (dehumanisasi). Modernisme yang sekiranya mampu memberi ruang bagi kemanusiaan nyatanya justru memojokkan manusia sebagai objek. Sekiranya metode positivisme diterapkan dalam ilmu-ilmu alam (naturweisenscaften) mungkin lebih tepat sasasran akan tetapi menggunakan positivisme untuk bidang-bidang humaniora (geistweisenscaften) memang bukan hal yang bijak. Klaim modernisme (yang terwakili oleh positivisme) atas “ke-bebas-nilai-an” ilmu pengetahuan juga mengindikasikan adanya kepentingan-kepentingan yang “bermain” sehingga menjadikan ilmu pengetahuan sebagai “kesadaran palsu” dan “metafisika baru” yang anti kritik.

Sekiranya hal demikianlah yang menjadi perhatian Weidenmann didalam tulisannya “The Redifinition of Applied Linguistics: Modernism and Postmodernism Views. Weidenmann berusaha untuk memetakan perkembangan linguistik terapan baik secara filosofis maupun secara teknis berdasarkan hasil-hasil tulisan sebelumnya mengenai linguistik terapan dan pengajaran bahasa. Dia (weidenmann), memulai dengan prasangka adanya hal yang luput dari cara pandang modernisme dalam bidang linguistik terapan. Dia juga membagi perkembangan linguistik terapan menjadi 6 tradisi: linguist/behavioris, model paradigma linguistik yang diperluas, model multi disiplin, penelitian pemerolehan bahasa kedua, konstruktivisme, dan post-modernisme. Berikut penjabarannya atas tradisi/model tadi.

Awalnya, penelitian linguistik menggunakan metode linguistik yang disebut audio-lingual. Salah satu ciri dari model ini dalam penajaran bahasa adalah pengujian bahasa dan penilaian. Metde ini menganjurkan adanya penerapan langsung deskripsi teori bahasa kedalam pengajaran bahasa. Weidenmann mengutip beberapa penulis lain yang mengisyratkan bahwa model ini, yang juga disebut sebagai generasi pertama linguistik terapan, memisahkan antara bahan ajar (bahasa) dengan peserta didik, dan dengan demikian, model ini hanya mengacu pada teori bahasanya saja. Penerimaan tanpa kritik ini tentu saja membawa pengajaran terlalu kaku dan, seperti klaim para postmodernis, menjadikan manusia sebahai objek pasif semata.

Lalu weidenmann melanjutkan dengan model yang kedua yang merupakan mediasi atau kelanjutan dari tradis yang pertama. Tradisi yang kedua ini disebut sebagai model paradigma linguistik yang diperluas (extended linguistics paradigm model). Model ini mengisyaratkan adanya “penerjemahan” atas teori-teori linguistik kedalam teknis pengajaran bahasa. Ha ini disebut sebagai mediasi antara teori dan praktik (tema khas modernisme dan postmodernisme). Generasi kedua linguistik terapan ini menganggap bahasa bahsa merupakan fenomena sosial yang dapat diterjemahkan sehingga dapat dipahami oleh pembelajar bahasa. Walaupun terdengar humanistik, model ini sebenarnya hanya “mengamini” apa yang telah tertuang didalam teori-teori linguistik.

Model yang kedua diatas telah mengilhami hadirnya model ketiga yaitu model multi-disiplin yang berusaha menjembatani beberapa bidang studi untuk memecahkan permsalahan bahasa dan pengajaran bahasa. Didalamnya terdapat bidang ilmu sosial, psikologi dan juga ilmu kependidikan (pedagogy). Berangkat dari model yang kedua ini, muncullah tradisi ke-4 yaitu penelitian pemerolehan bahasa kedua. Tradisi ini menganjurkan agar dibuat design yang memungkinkan pengajar-bahasa asing-sebagai- bahasa-kedua menyampaikan bahan ajar denganm lebih komunikatif. Pandangan ini beranggapan bahwa dibutuhkan berbahai pendekatan maupun teori-teori linguistik untuk menjadikan pengajaran bahasa menempatkan kompetensi komunikasi sebahai kemampuan berbahasa. Cara pandang ini juga hadir sebagai reaksi dari keterputusannya bahasa dari konteks sosial dan rendahnya tingkat kompetensi komunikasi didalam tradisi linguistik tradisional, struktural, mupun transformasional grammar-nya Chomskyan.

Model/tradisi/generasi ketiga dari linguistik terapan adalah konstruktivisme. Konstruktivisme memandang bahasa merupakan pengethuan yang disusun secara interaktif. Tradisi yang terakhir dari linguistik terapan adalah postmodernisme. Tradisi ini memberi perhatian lebih atas relasi politik dalam pengajaran dan kemjemukan yang beragam. Nampaknya weidenmann membrik ruang yang lebih banyak menganai hal ini didalam tulisannya. Dia, pada beberapa hal, banyak mengutip karya Penny cook yang bertopik linguistik terapan kritis (critical applied linguistrics). Linguistik terapan kritis (LTK) turut memasukkan analisis wacan, kekuasaan, dan politik didalam pengajaran kebahasaan. Hal ini didasari bahwa tidak ada sesuatupu ynag bebas nilai, semua hal didorong oleh relasi kuasa dan pengetahuan. Penny cook sendiri telah menggariskan pemikirannya mengenai bahasa inggris yang menjadi perangkat kolonialisme diberbagai tempat dibelahan bumi. Pennycook juga menyarankan multiperspektif dalam pengaharan bahasa. Kedua hal tadi bertujuan agar identitas pembelahar bahasa tidak ikut masuk melesap seiring terserapnya bahan ajar bahasa asing. Dengan demikian, LTK mengisyaratkan adanya patahan (diskontinuitas) didalam linguistik terapan dan pengajaran bahasa dimana definisi-definisi linguistik terapan didalam modernisme telah gagal dalam memberikan makna keilmiahan yang rasional.

Konsep LTK yang memberikan ruang bagi kemajemukan dipandang sebagai relativitas yang sangat diharamkan oleh para modernis. Kedua kubu ini, seperti yang terjadi diberbagai bidang ilmu yang, sangat bertolak belakang. Modernisme menghendaki adanya ilmu pentetahuan yang mutlak, terukur, valid, dan universal. Disisi lain, postmodernisme menghendaki adanya pluraritas, ke-lokal-an, dan relatif. Bagaimanapun, weidenmann melanjutkan analsisnya pada penerapan yang ia sebut sebagai post-method yaitu penyusunan atas metode pengajaran bahasa secara independen oleh guru bahasa. Hal ini tentu saja menarik karena sebagian besar pengajaran bahasa menggunakan buku teks yang diproduksi secara massal dan belum tentu bahan ajar tersebut sesuai dengan kondisi lokal dari peserta ajar.

Sebagai penutup, weidenmann mengarahkan apda proses perancangan dasar pengajaran bahasa yang mampu untuk menutupi kekurangan dari cara pandang linguistik terapan modern dan postmodern. Desain dari pengajaran bahasa harus dapat merangkum totalitas aspek/fungsi/fimensi/mode pengalaman: kinematik, fisik, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, dan etika. Keselurahan dari aspek/fungsi/fimensi/mode pengalaman tersebut bertujuan untuk menciptakan desain yang akuntable, terukur, valid dan juga mencakup situasi spesifik dari peserta ajar. Baik cara pandang modernisme maupun postmodernism memberikan kontribusi yang setara bagi perkembangan linguistik terapan dan juga pengajaran bahasa.   

 

Leave a comment

Filed under Humaniora

Teori dan praktik Linguistik Terapan: Tentu Saja Sebuah Dialektika

Teori dan praktik Linguistik Terapan: Tentu Saja Sebuah Dialektika

(Laporan Membaca Artikel Robert de Beaugrande)

Oleh: Hendra Nugraha

 

 

 

Letak ilmu sudah seharusnya berada dipihak manusia. Sevalid apapun sebuah ilmu, jika ia tidak mampu memberikan faedah bagi manusia dan kemanusiaan, maka ia akan tenggelam dan sirna dari peradaban. Demikian pulalah Linguistik Terapan (LP), sebagai bidang keilmuan, LP memiliki tantangan untuk tetap dapat hidup dan berkembang dalam khasanah pemikiran manusia, bukan hanya dari segi teoretis, akan tetapi juga sebagai bagian integral dari perkembangan peradaban manusia.

Sebelum menjadi layak dan bermanfaat, ilmu pengetahuan harus diuji kesahihannya agar segala tidakan yang mengacu atas ilmu tersebut tidak salah terap dan berfaedah. Agaknya, hal inilah yang menjadi kekhawatiran dari Penulis Theory and Practice in Applied Linguistics: Disconnection, Conflict, or Dialectic?, Robert de Beaugrande (RB).

RB memulai dengan memisahkan antara pekerjaan lapangan (fieldwork) dan pembelajaran pustaka (homework). Pekerjaan lapangan dibidang linguistik mencakup dengan pengumpulan data dari kegiatan nyata didalam masyrakat yang berhubungan dengan bahasa. Bidang ini mensyaratkan adanya perpaduan antara unsur-unsur non-kebahasaan yang saling berjalin kelindan dengan praktik berbahasa seperti budaya, sosial-ekonomi, dan politik. Dari bidang ini, hadirlah teori yang mengacu pada data (data-driven theory) dan praktik (practice-driven theory).

Dilain pihak, pembelajaran pustaka hanya mengkaji ulang hasil pekerjaan linguistik lapangan yang telah ada, data-data didalam naskah-naskah, dan teori-teori yang telah disimpulkan sebelumnya. Sehingga, tidak dibutuhkan adanya penceburan diri pekerja linguistik kedalam lingkup kegiatan nyata berbahasa dimasyarakat karena pekerja linguistik hanya perlu berasumsi mengenai cara berpikir pembicara asli (native speaker). Dari pembelajaran pustaka ini hadir teori yang mengacu pada teori sebelumnya (theory-driven theory).

 

Kemudian RB berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan lapangan linguistik dan pembelajaran bahasa yang kontroversinya telah dimulai pada tahun 1944 dan 1976 oleh Kenneth Lee Pike. Pike menyebut teorinya sebagai metode monolingual dimana pekerja lapangan linguistik (PLL) akan bekerja ditengah-tengah masyarakat dan mengamati serta mengajarkan bahasa berdasarkan dari hasil penelitiannya. Adapun syarat-syarat bekerja dengan metode ini adalah:

  1. PLL tidak didampingi oleh guru yang terlatih karena dengan ketidakhadiran guru tersebut, pekerja lapangan linguistik akan mendapatkan lebih banyak data langsung dilapangan.

  2. PLL harus menyusun sendiri korpus data secara sistematis.

  3. PLL merupakan orang dewasa yang berpendidikan yang mampu menempatkan diri secara bijak ditengah-tengah pelajar, anak-anak maupun orang dewasa, dan memberikan input yang tepat bagi peserta didik.

  4. PLL haruslah sangat terlatih untuk merekam tuturan-tuturan dengan simbol-simbol fonetis.

  5. PLL harus mampu menceburkan diri dalam kebudayaan setempat.

  6. PLL harus paham teori-teori linguistik sebelum melakukan pekerjaannya.

  7. Hasil dari pekerjaan PLL perlu dirancang untuk disajikan secara akademis.

 

Pekerjaan yang dilakukan oleh PLL ini menjadi penting ketika dihadapkan pada situasi belajar mengajar dengan kondisi yang beragam. Dengan adanya pelesapan budaya, PLL akan lebih mudah untuk mengajarkan perbedaan-perbedaan satu bahasa dengan bahasa lain. Pengajaran tense didalam bahasa Inggris misalnya, akan lebih mudah dengan membandingkannya dengan kondisi lokal karena tidak semua bahasa memiliki sistem pengaturan bahasa yang berdasarkan waktu.

Selain itu, pekerjaan ini akan menghindarkan dari sistem pembelajaran yang kaku yang berdasar atas buku-buku teks. Dengan menjalankan metode ini, pengajar dapat memahami tingkat penerimaan pengetahuan peserta didik dan meningkatnya sesuai dengan perkembangan mereka. Lebih jauh, pengajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua (second-language) tidak serta merta melahap bahasa pertama (first-language) yang mungkin saja bagi negara-negara post-kolonial akan membangkitkan sentimen dan mental kolonial.

PLL juga dapat menambah korpus linguistik, terutama dibidang pengajaran bahasa sebagai bahasa kedua. Kemudian, teori yang disimpulkan dapat kembali diterapkan dalam kondisi pembelajaran dan hal ini akan meningkatkan, tidak hanya pengembangan keilmuan, akan tetapi juga pekerjaan pengajaran. Melalui dialektika dari proses ini, PLL akan dapat memberikan terang bagi para pengajar lain dalam sebuah pelatihan atau semacamnya.

Pejelasan lain yang dikejar oleh RB adalah mampukah PLL atau Pembelajaran Pustaka (PP) menjawab tantang proses dialektika diatas. RB menunjukkan bahwa PP, dengan mengambil contoh Chomsky yang berusaha mengisolasi bahasa dari praktik nyata dalam melakukan penelitian, tidak mampu menjawab permsalahan teknis, misalnya pengejaran morfologi dan fonologi yang membutuhkan analisis lapangan yang mendalam dan kongkrit.

Alih-alih menyelesaikan persoalan mendasar tadi, Chomsky berteori bahwa yang menjadi masalah dalam pemerolehan bahasa adalah data primer yang dapat diambil dari peserta didik dan kemudian dianalisis didalam kerangka bahasa sebagai hal bawaan (innate idea). RB menegaskan disini, bahwa practice-driven theory mampu memecahkan masalah pembelajaran bahasa kedua melalui PLL sedangkan data-driven theory atau pun theory-driven theory belum tentu melakukannya.

Lalu RB menyajikan sebuah kasus Krashen, seorang linguis yang mendukung gagasan-gagasan Chomsky. Alih-alih mengkritisi cara pandang Chomskyan, Karshen justru terjebak dalam kekeliruan yang serupa, yaitu berusaha melepaskan bahasa dari praktik nyatanya. Dia juga mengalihkan tantangan yang diberikan oleh PPL dengan istilah-istilah abstrak seperti pemerolehan bahasa dapat berjalan otomatis dan dibawah kendali alam bawah sadar serta perangkat pemerolehan bahasa menyangkut kinerja organ-organ mental. Istilah-istilah ini masih terlalu abstrak untuk dapat disebut sebagai linguistik terapan sehingga apabila hendak diterapkan dalam proses nyata pengajaran bahasa tidak mungkin mendapatkan hasil yang optimal.

Sebagai kesimpulan, mengacu pada judul artikel yang ditulis oleh RB, pekerjaan linguistik lapangan merupakan cara terbaik untuk menghasilkan korpus linguistik karena berisi kondisi nyata dari bahasa sebagai bagian konkrit dari masyarakat. Pertentangan didalam pembangunan sebuah teori hendaknya dipahami sebagai dialektika yang mengembangkan ilmu pengetahuan demi manusia dan kemanusiaan.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Humaniora

Hubungan persepsi dan konsepsi

Semasa kuliah dulu, penulis pernah mendapatkan pertanyaan yang klasik namun kerap mengundang perdebatan. Pertanyaan itu seperti berikut ini: manakah yang terlebih dahulu muncul, telur atau ayam? Demikian pula perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi. Walau tampak sederhana dan remeh, masalah persepsi dan konsepsi memunculkan beberapa spekulasi filosofis. Sepanjang sejarah filsafat, perdebatan mengenai hal ini hadir dan mewarnai khasanah filosofis pemikiran manusia. Melalui tulisan singkat ini, penulis bermaksud untuk mengelaborasi perdebatan hubungan antara persepsi dan konsepsi secara filosofis. Hubungan yang akan diselidiki adalah apakah persepsi dan konsepsi saling mempengaruhi, dalam hal ini, apakah persepsi mempengaruhi konsepsi atau sebaliknya. Mana yang lebih dahulu muncul, persepsi atau konsepsi? Hal-hal apa yang mematangkan hubungan antara persepsi dan konsepsi tersebut?

Didalam tulisan ini, penulis menerjemahkan persepsi sebagai hasil dari proses pengindaraan (melalui pancra-indra manusia) sedangkan konsepsi adalah abstraksi mengenai sesuatu hal. Persepsi hadir dikarenakan manusia memiliki kemampuan sensoris melalui panca indra. Manusia dapat mempersepsi api, kayu, atau hal-hal lain melalui penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran, dan pe-rasa-an). Kelima indra manusia inilah yang menghasilkan persepsi. Disisi lain, konsepsi merupakan abstraksi dari sesuatu hal. Konsepsi masing-masing manusia dapat berbeda-beda (subjektif). Misalkan konsepsi tentang seekor kuda, seseorang dapat mengonsepsikan kuda sebagai hewan perkasa, berwarna hitam, dapat ditunggangi, sedangkan orang lain dapat mengonsepsikan kuda sebagai perantara judi, berwarna putih, dan hewan yang cerdas.

Perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi telah hadir di zaman emas pemikiran Yunani melalui perdebatan Plato dan muridnya, Aristotel. Plato menganggap bahwa konsepsi merupakan hal yang imanen dan bawaan manusia bahkan hadir sebelum manusia lahir. Konsep plato yang termahsyur mengenai konsepsi bawaan ini disebut sebagi dunia ide (the world of idea). Sedangkan Aristoles bersikukuh bahwa konsepsi lahir dari persepsi. Tanpa adanya persepsi, konsepsi tidak akan hadir. Pandangan aristotel ini disebut-sebut sebagai pilar perkembangan pengetahuan modern walaupun, metode keilmuannya disempurnakan pasca masa renaissance abad ke-14 di Eropa kontinental. Aristotel mengembangkan metode observasi didalam mengonsepsikan sesuatu. Didalam observasi itulah manusia mempersepsi sesuatu.  Dapat disimpulkan dari kedua filosof tersebut bahwa, Plato beranggapan bahwa konsepsi lebih dahlu muncul dari persepsi sedangkan Aristotle berpandangan sebaliknya, konsepsi muncul dari persepsi.

Perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi muncul kembali pada awal masa-masa modernitas melalui perdebatan panjang antara rasionalisme dan empirisisme. Kedua aliran filsafat tersebut sangat bertolak belakang dalam memandang sumber pengetahuan. Rasionalisme memandang bahwa rasio merupakan sumber utama pengetahuan dan dengan demikian rasionalisme cenderung mengutamakan konsepsi daripada persepsi. “Cogito ergo sum,” demikian tegas Descartes. Jargon rasionalisme ini mewakili pentingnya rasio (cogito/consciousness) dalam mendapatkan pengetahuan. Dengan demikian, kaum rasionalis seperti Descartes akan beralasan konsepsilah yang mempengaruhi persepsi. Lebih jauh, Descartes tidak percaya akan persepsi (lengkap dengan alat-alat pengindranya) karena ia meyakini bahwa kenyataan kerap mengelabui (deceiving).

Disisi lain, empirisisme bersikukuh bahwa fakta empiris merupakan sumber utama pengetahuan. Bagi kaum empirisis seperti John Locke, Berkeley, dan Bacon, apa yang dapat terindra oleh panca indra (human sense) adalah hal yang benar. “Esse est percipi,” ungkap Berkeley, yang menjadi jargon empirisis. Apa yang ada adalah apa yang dapat dipersepsi (diindra). John Locke juga menyatakan hal senada. Dia mengklaim bahwa manusia awalnya seperti kertas kosong (tabula rasa) dan kenyataan empiris-lah yang membentuk kesadaran dan pengetahuan manusia. Dengan demikian, kaum empirisis lebih mengutamakan persepsi daripada konsepsi.

Dari dua penjabaran pertentangan filosofis diatas, terlihat dua kekurangan baik disisi pihak yang mendahulukan konsepsi maupun pihak yang mendahulukan persepsi. Tidak dapat dielakkan bahwa manusia memiliki kemampuan berpikir dan kemampuan mengindra. Kemampuan inilah yang membuat manusia menjadi berkembang dan mengembangkan peradabannya (tidak pernah terdengar adanya hewan yang memiliki peradaban karena hewan hanya memiliki alat pengindra). Kemampuan akal manusia memang sangat menakjubkan. Manusia dapat menarik kesimpulan atas beberapa hal yang mungkin terjadi (pilihan-pilihan) dengan cepat. Mungkin hewan juga memiliki kemampuan serupa dengan mengandalkan insting pertahanan hidup, akan tetapi, kemampuan akal manusia lebih kompleks. Disisi lain, kemampuan akal tanpa hadirnya persepsi tentang kondisi factual juga bernada absurd. Seseorang dapat saja (dengan mengandalkan kemampuan akalnya) berkata bahwa ia baru saja melihat telur kuda, akan tetapi, kondisi faktualnya tidak ada satupun kuda yang bertelur. Jadi, persepsi dan konsepsi tidak dapat berjalan satu tanpa lainnya.

Agaknya dalam filsafat modern, Kant muncul sebagai pahlawan dalam menengahi perseteruan antara rasionaslime dan empirisisme (konsepsi dan persepsi). Dia beranggapan bahwa kebenaran adalah perpaduan antara kemampuan akal dan pengindraan. Kant meyakini bahwa kebenaran mengenai sesuatu terdapat didalam sesuatu itu sendiri (das ding an sich). Apa yang nampak oleh panca indra manusia adalah fenomena. Hakikat/kebenaran dari fenomena itu (atau yang ia sebut sebagai noumena) terletak pada fenomena itu sendiri. Jadi, apabila kita ingin mengetahui hakikat dari kursi, kita perlu mem-persepsi-kan kursi itu lalu melakukan penyimpulan (konsepsi). Cara sebaliknya pun dapat dilakukan, kita dapat memulai dengan konsepsi mengenai kursi terlebih dahulu, baru melakukan cross-check kebenaran konsepsi-konsepsi kita mengenai kursi. Cara yang pertama disebut dengan induktif, cara yang kedua disebut dengan deduktif.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa hubungan persepsi dan konsepsi adalah hubungan yang saling mempengaruhi (resiprokal). Hubungan ini tidak diartikan secara linear (persepsi-konsepsi atau konsepsi-persepsi) akan tetapi dipahami sebagai proses yang dialektis yang terjadi dalam keadaran manusia. Cogito ergo sum dan esse est percipi perlu dipahami sebagi dua proses yang berjalan bersamaan sehingga , mengutip kata-kata Marx, manusia dapat berpikir dengan kepala dan berjalan dengan kaki, dan bukan sebaliknya.

Leave a comment

Filed under Humaniora

King’s Speech: Imperium Inggris dan Kegagapan Raja

Gembar-gembor piala oscar ternyata memang benar, King’s Speech, yang mengantongi sejumlah penghargaan diajang bergengsi itu, memang patut diacungi jempol. Penghayatan karakter King George VI yang diperankan oleh aktor Colin Firth sungguh mengharukan. Helena Bonham Carter juga telah berhasil memerankan arogansi tipikal aristokrat Inggris (sesukses perannya dalam “Red Queen” difilm Alice in Wonderland). Satu aktor kawakan lainnya adalah Geoffrey Rush yang sangat apik memainkan peran sebagai terapis bahasa. Peran aktor yang terakhir ini juga sedahsyat aksinya sebagai Marquis de Sade di film the Quill. Walaupun saya kurang tertarik menonton film bergenre drama, King’s Speech ((selanjutnya disebut KS-bukan merek kecap) telah menyita waktu saya selama 3 hari (dihitung dengan waktu downloadnya 😀 ).

Adapun kisahnya, menurut saya sangat linguistik. Pertama, film ini menyodorkan fenomena gangguan bicara yang disebut sebagai stammering atau stutering (gagap). Bagi komedian, mungkin kekurangan ini bisa menghadirkan setumpuk uang, akan tetapi, bagi seorang pangeran dari imperium yang pada masa jayanya menguasai seperempat bagian dari belahan bumi, tentu saja kekurangan ini berarti petaka. Kedua, metode psikoanalisis didalam linguistik terapan yang diperagakan oleh Lionel, sang penasehat pidato (speech advisor) dari King Heorge VI. Dan ketiga, film ini menggambarkan bagaimana bahasa (dalam bentuk retorika) dapat mengguncang dunia.

Stammering atau kegagapan didalam kajian bahasa umumnya dibahas dibidang psycholinguistics. Bidang ilmu ini mempelajari hubungan antara organ bahasa (language devices) dan perangkat mental (mental aparatus). Prince Albert/King George VI/Berty merupakan representasi dari orang yang memiliki gangguan bicara karena adanya represi psikologis sehingga mengakibatkan terhambatnya penyampaian pikirannya lewat ucapan. Tidak hanya dalam berpidato, Berty juga mengalami kesulitan dalam melafalkan teks yang dibacanya. Didalam situasi komunikasi personal antar individual, kekurangan ini tidak begitu mengemuka, akan tetapi muncul begitu hebat ketika masuk keruang publik. Penyebab-penyebab dari gangguan bicara ini juga diulas didalam film tersebut yaitu adanya koreksi pembetulan ucapan, tindakan, dan pikiran Berty semasa kecil oleh ayahnya, King George V. Koreksi ini berlangsung sejak Berty berumur 4-5 tahu dan terus terjadi hingga King George V meninggal.

Sebab lain dari kegagapan Berty adalah tidakan pelecehan yang dilakukan oleh kakaknya, Edward sedari kecil. Tindakan ini didalam ilmu kependidikan disebut bullying yang mengindikasikan adanya subordinasi satu pihak atas pihak lain. Tindakan bully yang dilkukan edward berbetuk penganiayaan (mencubit/puinching) atas berty setiap kali mereka erdua bertemu dengan ayahnya. Tindakan bullying itu terus berlangsung hingga berty beranjak dewasa dengan bentuk yang berbeda, Edward mengimitasi kegagapan Berty, B-B-B-e-r-r-t-t-t-y-y. Kasih sayang pengasuhnya yang lebih besar pada kakaknya, Edward, juga turut mengcilkan kepribadian Berty.

Penyebab-penyebab tadi merepresi kepercayaan diri Berty, tidak hanya sepanjang masa kecil dan masa remajanya, akan tetapi juga masa dewasanya. Sosok berty memberi gambaran bahwa gangguan bicara tidak hanya dikarenakan oleh gangguan organ bicara secara fisik (lidah, mulut, gigi, dll) akan tetapi juga bisa dikarenakan gangguan psikis (mental). Tokoh berty juga menjadi contoh kegagalan orang tua didalam membesarkan kepercayaan diri anak melalui proses koreksi terus menerus. Rasanya hal ini bisa dimaklumi mengingat setting cerita film tersebut adalah keluarga aristokrat Inggris dimana sejak kelahirannya seorang anak sudah memikul beban sebagai calon penguasa. Dari sisi ini, dapat dilihat bagaimana King George V berusaha keras untuk mendidik dan menjadikan anaknya  sebagai bahian keluarga aristokrat penguasa dunia, walaupun dengan cara yang kurang bijak. Apakah Berty memiliki ketidakpercayaan diri secara menyeluruh? Saya rasa tidak. Dia telah memiliki visi atas kekuasaan keluarganya dipanggung politik internasional dan dilihat dari sikapnya, ia lebih arif dibanding kakaknya yang hedonis. Berty hanya memiliki kekurangan dalam menyampaikan gagasannya kepada orang lain.

Gangguan bicara pada berty ini lalu “diobati” oleh seorang terapis bahasa, Linoel. Karakter ini bukanlah ahli bahasa dan juga bukan seorang psikiater. Dia belajar “menyembukan” gangguan bicara berdasarkan pengalaman. Jika ditelusuri setting waktu film ini, 1925-1936, tentu saja kajian linguistik terapan belum lagi berkembang. Metode penyembuhan Lionel ini lebih dekat dengan psikoanalisis ketimbang pendekatan linguistik terapan. Dia berusaha membuka “tabir” yang mengakibatkan Berty tak dapat berkata-kata dengan lancar. Lionel menyadari, ketika ia meminta berty membacakan soloqui To be or not to be-nya William Shakespeare. Tanpa mendengarkan suaranya sendiri, ternyata Berty mampu berkata-kata dengan jelas. Awalnya Berty menolak mengungkapkan masalah pribadinya, akan tetapi segera setelah ia menyadari bahwa tak ada yang salah dengan organ bicranya, ia mulai membuka diri pada Lionel. Disini muncul kedekatan diantara kedua yang memungkinkan proses “penyembuhan” lebih cepat dan maksimal. Metode ini sangat berbau psikoanalisis, bahkan posisi kedua bukanlah seperti psikiater dan pasien, akan tetapi lebih seperti kawan yang setara. Lionel yang dengan “lancangnya” memanggil Pangeran Albrt dengan panggilan keluarganya: Berty. Lewat proses “ngobrol” inilah Berty dapat sedikit demi sedkit membangun kepercayaan dirinya dan sedikit demi sedikit mengembangkan kemampuan orasinya. Dia terlihat kagum ketika melihat Hitler berpidato dalam “laga pemanasan” Perang dunia II. Nampaknya ia juga menyadari pentingnya retorika bagi seorang pemimpin seperti dirinya.

Lewat KS ini, penonton juga dihadapklan pada isu imperialisasi Inggris selama berabad-abad dan terlihat jejaknya pada saat ini. Sebagai imperium besar, Inggris memulai ekspansi wilayah politik sejak ratu Elizabeth (Gloriana) pada abad ke-15. Armada lautlah yang menjadi topangan militer kerajaan Inggris saat itu. Armada laut Inggris menjelajahi dunia tanpa menghiraukan “pembagian kekuasaan dunia” antara Spanyol dan Portugis yang direstui oleh Paus. Dan demikianlah, koloni Inggris berjamur diaman-mana, mulai dari benua Amerika walaupun akhirnya membangkang dan menjadi negara merdeka), Afrika, Asia, dan Autralia (termasuk wilayah Pasifik sebelah selatan). Film ini mengklaim bahwa pada tahun 1925, Inggris menguasai sekitar seperampat penduduk dunia (jadi wajarlah kalau kiranya bahsa Inggris kini menjadi lingua franca dan digunakan sebahai bahsa resmi dinegara-negar bekas kolonisasi Inggris.

Diabad 20, bisa dikatakan, hegemoni Inggris telah mapan, akan tetapi, seperti yang dikemukakan oleh Louis Athusser, kekuasaan harus didukung oleh dua perangkat (aparatus) yaitu: represive state aparatus (RSA) dan ideological state aparatus (ISA). RSA dicirikan dengan hadirnya kekuatan pemaksa seperti militer, pengadilan, dan pejara, sedangkan ISA berurusan dengan ideology (bukan hanya usme-isme tetapi juga sistem nilai/ide secara umum yang disusun secara sistematis) dicirikan dengan lembaga-lembaga budaya seperti sekolah, agama, dan media. Terlihat bahwa “pemanasan” perang dunia II diwarnai oleh publikasi dari pihak-pihak yang berseteru, dalam hal ini Kerajaan Inggris diwakili oleh BBC London. Stuart Hall, tokoh peneliti media dan budaya asal Birmingham, juga telah mensinyalir adanay kontribusi positif bari kantor berita tersebut dalam melanggengkan kolonialisasi Inggris. Pidato yang diberikan oleh King George V dan Berty bukan hanya berisi pengumuman, akan tetapi juga sebagai pembentuk wacana dan pengarah ideologi penguasa untuk melanggengkan hegemoni Inggris keseluruh penjuru dunia. Salah satu scene menarik dari KS adalah ketika George VI membacakan pidatonya dengan dibantu oleh Lionel. Didalam scene itu, bukan hanya keluarga kerajaan saja yang tegang akan tetapi juga staf penyiaran. Lalu ditampilkan pula wilayah-wilayah yang akan menangkap siaran pidato penguasa Inggris itu. Dibeberapa scene yang lain ditunjukkan segerombol orang dengan berbagai latar belakang ras) sedang khusyu’ mendengarkan pidato sang pemimpin imperuim itu.

Sebagai penutup, kiranya saya tak mampu memberi penjelasan yang melingkupi aspek sinematografi dari KS, dan itu merupakan kelemahan dalam tulisan ini. Tanggapan, tambahan, kritik, ataupun sanggahan, merupakan dialektika yang mengarah pada perkembangan yang lebih baik. Sekian.

(Hendra Nugraha)

3 Comments

Filed under Humaniora

Ujian Nasional


Penyelenggaraan UN sudah didepan mata. Penambahan jam belajar menjadi tidak terelakkan. Penambahan jam belajar ini dilakukan pada masa libur sekolah maupun setelah jam belajar normal usai. Anak didik kelas VI (SD dan sederajat), IX (SMP dan sederajat), dan XII (SMA dan sederajat) ‘dipaksa’ untuk bersiap diri menghadapi UN. Materi-materi yang dipelajari pun difokuskan pada materi yang ‘berpeluang’ muncul dalam soal UN.

Melihat kondisi ini, jelas, pelaksanaan UN tahun ini memiliki kekurangan yang nantinya akan memukul mundur output pendidikan nasional kita. Paling tidak, jika pelaksanaan akan terus dipaksakan, kita dapat meminimalisir kekurangan tersebut.

Pertama, dengan pergeseran jadwal UN maka pihak sekolah akan harus mengubah rencana kerja. Akibatnya seperti yang sudah tertera diatas yaitu kejar setoran untuk menyiapkan anak didik menghadapi UN. Materi belajar dipersempit menjadi materi-materi yang akan muncul dalam soal-soal UN. Tentunya, bentuk pendidikan seperti ini menghilangkan hak anak didik untuk mendapatkan materi pembelajaran yang utuh.

Kedua, walaupun kriteria kelulusan juga didasarkan pada ujian sekolah (US), pada akhirnya nasib anak didik akan ditentukan oleh hasil UN. Jika pemerintah berasumsi bahwa pendidikan yang dilaksanakan didaerah-daerah berjalan merata maka hal itu mungkin dapat terjadi. Namun fakta lapangan tidak demikian. Kita dapat lihat pelaksanaan pendidikan didesa-desa terpencil yang BOS-nya turun 3 bulan sekali dan sarana serta prasarana pendidikannya jauh dari mencukupi.

Ketiga, kriteria kelulusan ‘bernilai baik’ untuk kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia, estetika, dan, juga menuai penolakan oleh praktisi pendidikan. Di Bandung misalnya, sekelompok guru yang tergabung dalam Forum Aksi Guru Independen mengecam mekanisme evaluasi materi ahlak mulia dan agama lewat ujian tertulis. Evaluasi materi ahlak mulia dan agama secara tertulis, kata mereka, menafikan proses afeksi pendidikan (Kompas, 10/2). Pendidikan agama diperlakukan sama seperti pengetahuan sosial atau pegetahuan alam dengan metode hapalan (learning by rote). Dengan demikian, pendidikan agama dan ahlak mulia hanya mampu menyentuh kognisi anak didik.

Keempat, objektifitas dari penilaian UN pun wajib dipertanyakan apabila evaluasi yang lakukan melalui soal pilihan ganda atau benar-salah berganda. Penggunaan soal pilihan ganda atau benar-salah berganda memang lebih efisien untuk ujian secara missal namun disisi lain evaluasi tidak mampu mengeksplorasi kreativitas anak didik dalam memahami materi pembelajaran.

Bentuk soal pilihan ganda atau benar-salah berganda akan meredusir pengetahuan yang dimiliki anak didik dalam pilihan-pilihan terbatas. Alih-alih mencari hasil evaluasi yang objektif, namun pada kenyataanya anak didik yang tak mampu menjawab pilihan jawaban akan melewati soal tersebut begitu saja. Bahkan lebih parah menebak dengan panduan kancing pada baju seragamnya!

Disadari atau tidak, pendidikan Indonesia terkonstruk dan mengadopsi pendidikan liberal gaya ‘barat’ yang menganggap anak didik secara tidak utuh dan terpecah-pecah. Pada akhirnya paham ini menjadikan pendidikan sebatas formalisasi daripada substansi.

Formalisasi yang dimaksud adalah nilai, rangking, indeks prestasi, dan NEM yang terangkum didalam ijazah. Penilaian-penilaian tersebut kemudian dirasa lebih penting daripada pembentukan kepribadian anak didik secara utuh.

Anak-didik dianggap sebagai bahan mentah (raw material) sementara guru, kurukulum, dan fasilitas dianggap sebagai alat produksi (instrumental input). Jika raw material dan instrumental input-nya baik maka hasilnya (output) juga akan baik. Pendidikan seperti cara pandang ini jelas akan memperlakukan anak didik dengan tidak manusiawi dan menjauhkan pendidikan dari tujuannya yaitu memanusiakan manusia.

Walaupun banyak pihak yang meragukan pelaksanaan UN, pemerintah tetap akan menggelar UN tahun ajaran ini. Bahkan, untuk memuluskan jalannya, pemerintah telah mengeluarkan payung hukum berupa Peraturan Mendiknas Nomor 45 Tahun 2006 tentang penyelenggaraan ujian nasional (UN) dan Standar Kompetensi Lulusan. Dengan adanya peraturan ini maka setiap sekolah diharuskan untuk menyelenggarakan UN untuk menentukan kelulusan anak didiknya.

Ditengah keterpurukan sistem pendidikan nasional kita, UN tidak seharusnya dipaksakan penyelenggaraannya. Akan lebih baik bagi pemerintah dan pihak-pihak pemerhati pendidikan untuk lebih memfokuskan diri pada pembahasan mengenai arah pembangunan kebijakan pendidikan nasional.

Kalaupun pada akhirnya nanti kebijakan pendidikan nasional tetap menghendaki adanya UN, maka seharusnya pemerintah juga membuat aturan-aturan yang tidak membebani pendidik dan juga tidak merugikan anak didik. Pada pelaksanaan pendidikan nasional hendaknya pula setiap unsur tidak saling menyalahkan satu sama lain. Ibarat pepatah, “apabila buruk muka, jangan pula cermin yang dipecah”.

Sejatinya, pendidikan bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk memajukan tingkat pemikiran sekaligus kebudayaan rakyat dan bangsa Indonesia. Hanya dengan jalan demikian maka kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa diciptakan.

 

Leave a comment

Filed under Humaniora

Salahkan SmackDown..


 

 

Fenomena kekerasan di dunia pendidikan menyeruak kembali ke permukaan. Kali ini, beberapa siswa yang “terinspirasi’ acara gulat mencelakai teman-temannya. Bahkan dua hari yang lalu (4/12) diberitakan oleh stasiun berita swasta “seorang siswa di NTB mengalami cedera dan memear akibat dibanting gurunya”. Anak tersebut menyatakan bahwa ia diangkat dan diputar-putar di udara seperti adegan SmackDown sebelum akhirnya sang guru melemparnya pintu kelas.

 

SmackDown “sang kambing hitam”

Kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan diduga akibat dari sebuah tayangan gulat SmackDown. Acara inin merangkaikan unsur olahraga dan hiburan. Walaupun terlihat sangat meyakinkan, acara ini tidak jauh berbeda dengan film, ada pemain, kostum, tata panggung, dan skenario. Semuanya menyuguhkan sebuah hiburan yang extreme, menegangkan, sekaligus membahayakan.

 

Namun apakah benar SmackDown yang menjadi penyebab dari terjadi kekerasan disekolah, sehingga jatuh korban meninggal dan luka-luka?

 

Kekerasan telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan Indonesia. Bentakan, pukulan, hingga tendangan telah menjadi metode untuk mengajak peserta didik berpikir. Metode kekerasan akan menjadi pembelajaran bagi peserta didik dan akan terus teringat serta turut membentuk karakter atau watak peserta didik.

 

Kekerasan tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik seperti contoh diatas. Kekerasan juga menampakkan dirinya dalam kurikulum. Kurikulum ini kemudian diturunkan menjadi bahan-bahan pelajaran, serangkaian tes yang menentukan kelulusan dan kemudian disuapkan langsung ke kepala peserta didik.

Konsep pendidikan seperti ini dapat disebut kekerasan karena materi pendidikan dipaksakan masuk kedalam kepala peserta didik. Padahal, setiap individu mempunyai berbagai persepsi yang berbeda-beda. Seorang pendidik asal Brasil, Paulo Freire, menyebut konsep pendidikan ini pendidikan gaya bank. Pendidikan gaya bank tidak mengizinkan adanya keberagaman dan tidak melatih peserta didik untuk berpikir kritis.

 

Kekerasan sebetulnya sudah tersedia dan SmackDown hanyalah pemicu bagi serangkaian gelaja-gejala keburukan pendidikan di Indonesia. Jika kita hanya menyempitkan SmackDown sebagai acara atau tontonan yang mengandung kekerasan bagaimana dengan Berita kriminal, perang dan film action yang juga kerap berisi kekerasan.

 

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan guru atau pengajar, yang melakukan tindak kekerasan pada peserta didik. Lebih jauh, tulisan ini mencoba ubntuk menggugah kita semua, yang selalu dekat dengan dunia pendidikan, untuk bersikap lebih arif dalam melihat permasalahan. Memperbaiki sistem dan metode pendidikan nasional merupakan tugas bersama, negara, masyarakat (termasuk insan pertelevisian), orang tua, guru dan juga peserta didik.

 

Pendidikan merupakan salah satu faktor pendorong kemajuan masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, berdaulat dan demokratis. Melalui pendidikan sebuah bangsa dapat maju dan bersaing dalam pergaulan internasional. Pendidikan yang memanusiakan manusia dan anti-kekerasan akan menjadikan bangsa Indonesia mampu bersaing ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain.Walahu alam bisswab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Humaniora