Ulasan “Musashi dan Taiko”-nya Eiji Yoshikawa

Selama dua minggu terakhir saya bergumul dengan dua novel epik jepang yang menarik karangan Eiji Yoshikawa. Kedua novel itu berjudul Musashi dan Taiko.., berikut ini saya coba rekomendasikan kedua buku sebagai bahan bacaan yang bermutu sekaligus bahan penelitian sastra maupun linguistik..

Setting waktu dari kedua novel ini adalah masa2 perang antar warlord di Jepang sekitar abad ke-16 sampai akhir abad ke-17. Perbedaannya adalah, taiko (yang ditulis lebih awal) menceritakan bagaimana kemunculan era baru politik Jepang yang dimotori oleh Oda Nobunaga, Ieyasu Tokugawa dan Hideyoshi dengan kecendrung sudut pandang penceritaan dari pihak Hideyoshi dan Tokugawa. Musashi, disisi lain, menceritakan masa2 damai pasca perang Sekigahara dimana Ieyasu Tokugawa telah menjadi pelindung Tenno, dengan sudut penceritaan dari seorang ronin (samurai pengembara) bernama Musashi Miyamoto.

Jika ditilik dari bangunan plotnya, kedua novel tersebut sangat berbeda. Taiko lebih banyak mengulas situasi sosial, politik, dan budaya masyarakat disertai ungkapan emosi beberapa karakter. Didalam Musashi, situasi politik kurang tereksplorasi (secara novel tersebut mengambil setting waktu pasca Perang Sekigahara yang merupakan masa2 damai). Walapun memberikan penekanan pada kehidupan Hideyoshi secara umum, Taiko memberikan gambaran atas usaha2 kaum samurai dalam usaha mereka menyatukan jepang dan memelihara kedamaian. Jadi, bagi agan2 yang doyan nonton film kolosal macemnya Troy, brave heart, ato Last Samurai bakal terpaku pd aksi2 perang besar2an dengan jumlah pasukan puluhan hingga ratusan ribu personil. Strategi dan Taktik2 yang dijalankan pun menarik. Tidak hanya menggunakan kekuatan militer, Taiko juga mengulas cara2 diplomasi, baik bentuk elegan maupun dengan bentuk yang paling busuk. Disnilah menurut saya keindahan dari novel Taiko.., perpaduan antara kekuatan dan kecerdasan dalam membangun bangsa.,

Sementara itu, Musashi lebih banyak menyoroti perkembangan kejiwaan sang tokoh utama, Musashi dari Miyamoto, yang diceritakan sedang meningkatkan kualitasnyasebagi manusia. Tidak ada perang besar2an didalam Musashi, akan tetapi, bagi ente2 yang pernah dan doyan nonton film jepang semacam Azumi, Ichi, Zatoichi, dll, aksi pedang musashi bisa jadi bacaan yang menarik (terlepas musashi paling banter bertempur dengan 30 orang dan ia pun kerap menghindar dari tantangan lawan2nya). Tentunya, ia memiliki cara padangnya sendiri dalam menentukan sikapnya, . Inilah bagian terindah dari Musashi., ia ingin menyusun nilai2nya sendiri demi usahanya menjadi manusia (sounds familiar: Nietzsche, huh?).

Dari segi filosofis, kedua novel tersebut memiliki basic yang sama: bushido yang dilatar belakangi pemikiran timur: Zen, budhism, Sun-Tzu., akan tetapi lagi2 penerapan pemikiran2 tersebut sangat berbeda. Di novel Taiko, pemikiran2 timur itu diterapkan dalam seni memimpin atau memerintah masayarakat, sedangkan didalam Musashi, penerapannya lebih banyak dalam perilaku pribadi. Pendekatan filosofis sangat tepat dalam hal ini: untuk melihat penerapan filsafat timur dalam seni memimpin dan mengembangkan diri. Selama ini saya berpikir bahwa filsafat baratlah yang paling ok, tetapi, setelah saya membaca kedua novel keren itu, saya mulai memiliki pembanding: filsafat timur juga dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan masyarakat dan penegmbangan kepribadian (tidak sedangkal pengembangan kepribadian yang diagung2kan sebagai cara untuk menjual diri di dunia kerja!)

Dari sudut pandang linguistik, kedua novel ini dapat didekati secara pragmatis., didalam keduanya terdapat basa-basi, sikap merendah dan kesopanan bertutur khas ketimuran. Mencermati politeness strategi, Face Threatening Act, dan locutionary act dalam tuturan2 karakter sangat menarik dan sangat menjanjikan dalam penilitian linguistik.., bagi kamu2 yang doyan semiotik bahkan dapat mengungkap relasi tanda2 yang dapat memberi khasanah pemahaman atas masyarakat Jepang.

Kedua novel tersebut adalah hasil karya penulis jepang dan menceritakan mengenai sejarah dan manusia Jepang. Sayapun (karena buta hiragana dan katakana) hanya mampu membaca terjemahan versi indo-nya saja., Menurut hemat saya kedua novel ini sangat bagus untuk ditelaah, bukan hanya untuk mahasiswa sastra jepang tetapi seluruh mahasiswa sastra tanpa mengenal jurusannnya (Inggris, Perancis, Jerman, dll). Memang, ada bebrapa anggaan bahwa bahasa adalah media bagi karya sastra manapun, akan tetapi jangan pula batasan kebahasaan itu yang menjadi halangan bagi kreativitas dan kemajuan ilmu sastra., toh, yang telah mahasiswa sastra pelajari adalah ilmu sastra dan tete* bengeknya., adalah masuk akal jika anggapan itu diterapkan untuk penelitian linguistik semata. Lalu ada anggapan: kita kan sastra inggris, buat apa meneliti novel jepang, masyarakat jepang, atau sejarah Jepang? Pandangan sempit inilah yang menjadikan katak dapat hidup mewah didalam tempurung., kenapa tidak membuka mata bagi kesusastraan lokal, nasional, dan internasional jika hal itu dapat mengembangkan wawasan dan memperkaya khasahan kajian sastra?

Tanggapan dan kritikan dapat menjadi diskusi yang hangat (dengan bercangkir2 kopi dan berbatang2 rokok sebetulnya lebih nikmat).., dan yang pasti, saya akan sangat senang jika ada yang mw mengosipkan beberapa topik lagi yang luput dari mata saya.., Kiranya paparan saya yang tidak seberapa ini dapat menginspirasi (sebetulnya target saya adalah memprovokasi :)) agan2 sekalian.

1 Comment

Filed under Humaniora

One response to “Ulasan “Musashi dan Taiko”-nya Eiji Yoshikawa

  1. kamil

    hmm, sangat menarik untuk di coba di teliti.. lumayan gan mumpung lagi cari judulu buat makalah

    mantaps gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s