Arus Balik: Catatan Sejarah Nusantara dari Pramoedya

Nama Pramuodya Ananta Toer telah lama dikenal sebahai sastrawan Indonesia, tak hanya lewat karya-karyanya, akan tetapi juga lewat kisah hidupnya yang bergelimang musibah politik. Dia melawati lebih dari 1o tahun didalam penjara dan sisa hidupnya sebagai tahanan kota karena keterlibatannya dalam organisasi kebudayaan bianaan Partai Komunis Indonesia, Lekra. Walaupun tidak terang-terangan mengaku sebagai orang komunis, pemerintah orde baru tetap menjebloskannya ke penjara dan karya-karyanya sempat dibakar, dilarang terbit, dan dilarang beredar. Ketguhannya sebagai pemulislah yang menjadikan karya-karyanya tetap hadir, ia berjuang untuk menulis meski lewat penyusunan rancangan kasar didalam penjara dengan sepotong pensil kecil dan beberapa lembar kertas bekas. Arus Balik merupakan salah satu karyanya yang dirancang saat ia dicabut kebebasannya namun tak pelak lagi, karyanya itu menyanyikan lagu kebebasan itu sendiri.

Arus Balik mengisahkan catatan sejarah nusantara, mulai dari kejatuhan kerajaan majapahit, masuknya portugi ke malaka, dan berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara, Demak. Bentuk narasi dari novel ini memberi gambara lebih mengenai kondisi-kondisi di atas dengan lebih detil ketimbang buku sejarah biasa, namun, sebagai karya fiksi, kebenaran dari kisah yang dituturkan juga belum tentu benar adanya. Pada awalnya, karya ini menyoroti kemerosotan kerajaan majapahit yang telah tercerai berai menjadi kerajaan-kerajaan kecil lewat kotbah-kotbah Rama Cluring, seorang pewicara Hindu-Budha. Setiap kerajaan hanya sibuk mengurusi kepentingannya masing-masing. Adalah Tuban yang menjadi pusat penceritaan kejatuhan majapahit. Sebagai kota pelabuhan yang besar, Tuban merupakan topangan perdagangan Majaphit sekaligus sebagai pangkalan militer armada laut majapahit yang pernah menguasai lautan, mulai dari laut jawa, samudra hindia, selat malaka, hingga laut cina selatan. Kebesaran majapahit yang diungkit-ungkit didalam Arus Balik ini dikarenakan oleh satu hal yang pokok bagi wilayah maritim: penguasaan laut. Tanpa penguasaan laut, sebuah wulayah maritim tidak akan mencapai kemakmuran sekalipun ditopang oleh kemampuan agraris yang mapan.

Karena ceritanya yang mengumbar kemerosotan kadipaten Tuban, Rama Cluring mati diracun oleh kepala desa yang takut balatentara Tuban datang untuk menghabisi desanya dengan alasan subversif. Dari Rama Cluringlah muncul seorang calon pemimpin masa depan Tuban, seorang anak desa yang kelak benasib mirip dengan Ken Arok dan Gajah Mada, memimpin sebuah kerajaan. Anak desa itu benama Galeng. Galeng merupakan jawara gulat yang kemudian karena berhasil menikahi Idayu, seorang penari kebanggan Tuban, diangkat menjadi punggawa pelabuhan Tuban. Sepak terjang galeng sama sekali bukan dirintis sebagai seorang perwira namun karena kegigihannya belajar dari pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sejarah, ia menjadi sangat handal dalam memimpin. Ia dipilih sebagai pengawal armada Tuban tatkala armada gabungan Demak-Jepara-Tuban menyambangi Malaka yang telah dikuasai Portugis dibawah kendali Alfonso d’ Albuqurque sejak  tahun 1511. Armada gabungan Demak-Jepara-Tuban yang dipimpin oleh Adipati Unus itu mengalami kegagalan, salah satunya adalah akibat terlambatnya Armada Tuban datang ke medan pertempuran. Keterlambatan itu sendiri diakibatkan oleh ketidakacuhan Adipati Tuban akan bahaya monopoli Portugis di Malaka. Hal yang beberapa kali diungkap oleh Bung Pram dalam Arus Balik adalah kemerosotan mental priyayi Jawa yang senang haus kekuasaan dan terbuai atas kekuasaan didalam daerah sendiri tanpa menyadari hal yang lebih pokok dari kekuasaan daerah sendiri. Asal wilayah mereka tak diganggu takkan pula mreka, para priyayi jawa itu, melakukan sesuatu. Tanpa disadari, penguasaan Malaka telah menjadikan pelabuahn-pelabuhan dagang di Jawa, seperti Banten, Jepara, Semarang, Tuban, dan Gresik, menjadi sepi. Hanya beberapa gelintir saja yang menyadari bahwa kunci kemakmuran nusantara adalah pemersatuan wilayah nusantara dengan mengutamakan kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan sebuah kerajaan kecil. Hal ini pernah dirintis oleh Gajah Mada dibawah kepmimpinan raja Majapit yang masyur, Hayam Wuruk. Rupa-rupamya, penerus usaha Gajah Mada itu hanya Adipati Unus, Ratu Aisah, dan galeng sendiri.

Ditengah usaha mengusir portugis dari malaka, muncul lagi perpecahan setelah Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono, sepupu Unus yang berhasil naik tahta setelah membunuh saingan-saingannya. Berbeda dari pendahulunya, Trenggono justru bermental priyayi jawa pada umunya, id ingin menaklukkan jawa dibawah kakinya dengan penyerbuan-penyerbuan kerajaan tetangga. Ia membuat siasat licik dengan mengajak seluruh jawa untuk menyerbu Malaka kedua kalinya. Ditengah perjalanan, armada Demak berbalik arah dan bertahan di Banten untuk memulai kampanye penaklukan Jawa. Dengan berangkatnya armada gabungan tanpa armada demak itu dengan sendirinya jawa sepi dari pasukan pengawalan. Dengan mudah trenggono masuk dan menundukkan tetangga-tetangganya. Selama ini didalam buku sejarah, demak diagung-ahungkan sebagai kerajaan Islam yang pertama dan menjadi motor pemersatu nusantara, akan tetapi Bung Pram menyajikan hal yang berbeda. Hanya Unuslah yang melakukan tindakan itu, sedangkan Trenggono justru memberaikan persatuan yang telah diusahan oleh pendahulunya. Fatahillah sendiri, yang diagung-agungkan sebagai panglima besar Demak, ternyata hanya mampu menghajar saudara-saudaranya di Banten dan Sunda Kelapa dan mengusir pasukan Portugis dari Sunda Kelapa setelah kelelahan menghadapi badai di Laut Jawa. Dalam hal ini, Pramoedya memberikan wawasan yang berbeda dari literatur sejarah resmi yang selama ini dipelajari oleh kaum pelajar di Indonesia.

Permasalahan agama adalah satu hal lagi yang menjadi sorotan didalam Arus Balik. Terdapat tiga agama yang bersaing mencari pengikut, Hindu-Budha, Islam, dan Kristen. Herannya, hanya Hindu-Budha sajalah yang tidak meng-Hindu-Budha-kan orang Jawa. Islam dan Kristen, seperti dalam kisah-kisah syuihada dan martir di masa perang salib, berusaha keras mengislamkan dan mengkristenkan Jawa. Terdapat kemungkinan hal ini disebabkan oleh telah berakarnya Hindu-Budha didalam masyarakat Jawa, sedangkan Islam dan Kristen merupakan hal yang baru pada masa itu. Permasalahn yang muncul kemudian adalah, maraknya pengatasnamaan agama dalam melakukan tindakan-tindakan politik. Ekspansi Trenggono di Jawa dan Penguasaan Malaka, Jawa, dan Maluku oleh Portugis merupakan contoh dari kedok pengatasnamaan agama dalam tindakan politik yang ujung-ujungnya adalah penguasaan ekonomi belaka.

Karya besar Bung Pram ini patut dibaca oleh setiap orang yang mengaku orang Indonesia. Peliknya permasalahan yang diungkap dalam epos ini layak untuk jadi pembelajaran. Belakangan ini marak kericuhan soal agama, lucunya, antar sesama umat Islam. Menutip kata-kata Rama Clurig dan Galeng, kericuhan ini adalah karena kedunguan pemimpin dan perang karena gama adalah perang melawan kebodohan. Selain itu, walau didalam karyanya ini, Bung Pram dengan gamblang menggambarkan penerapan dari metode sastra Realisme Sosialis. Metode ini beranggapan bahwa karya sastra harus mampu menggambarkan konflik kelas yang terjadi dan menunjukkan arah dari konfilk tersebut kearah perkembangan masyarakat yang lebih baik. Didalam metode sastra ini, digunakan cara pandang materialisme-dialektis dan materialis-historis yang dikembangkan dari filsafat Karl Marx. Dengan demikian, walaupun Bung Pram tidak pernah mengaku sebagai komunis, ia dengan fasih cara pandang materialisme-dialektis dan materialis-historis dalam menulis karyanya.

Leave a comment

Filed under Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s