Hubungan persepsi dan konsepsi

Semasa kuliah dulu, penulis pernah mendapatkan pertanyaan yang klasik namun kerap mengundang perdebatan. Pertanyaan itu seperti berikut ini: manakah yang terlebih dahulu muncul, telur atau ayam? Demikian pula perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi. Walau tampak sederhana dan remeh, masalah persepsi dan konsepsi memunculkan beberapa spekulasi filosofis. Sepanjang sejarah filsafat, perdebatan mengenai hal ini hadir dan mewarnai khasanah filosofis pemikiran manusia. Melalui tulisan singkat ini, penulis bermaksud untuk mengelaborasi perdebatan hubungan antara persepsi dan konsepsi secara filosofis. Hubungan yang akan diselidiki adalah apakah persepsi dan konsepsi saling mempengaruhi, dalam hal ini, apakah persepsi mempengaruhi konsepsi atau sebaliknya. Mana yang lebih dahulu muncul, persepsi atau konsepsi? Hal-hal apa yang mematangkan hubungan antara persepsi dan konsepsi tersebut?

Didalam tulisan ini, penulis menerjemahkan persepsi sebagai hasil dari proses pengindaraan (melalui pancra-indra manusia) sedangkan konsepsi adalah abstraksi mengenai sesuatu hal. Persepsi hadir dikarenakan manusia memiliki kemampuan sensoris melalui panca indra. Manusia dapat mempersepsi api, kayu, atau hal-hal lain melalui penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran, dan pe-rasa-an). Kelima indra manusia inilah yang menghasilkan persepsi. Disisi lain, konsepsi merupakan abstraksi dari sesuatu hal. Konsepsi masing-masing manusia dapat berbeda-beda (subjektif). Misalkan konsepsi tentang seekor kuda, seseorang dapat mengonsepsikan kuda sebagai hewan perkasa, berwarna hitam, dapat ditunggangi, sedangkan orang lain dapat mengonsepsikan kuda sebagai perantara judi, berwarna putih, dan hewan yang cerdas.

Perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi telah hadir di zaman emas pemikiran Yunani melalui perdebatan Plato dan muridnya, Aristotel. Plato menganggap bahwa konsepsi merupakan hal yang imanen dan bawaan manusia bahkan hadir sebelum manusia lahir. Konsep plato yang termahsyur mengenai konsepsi bawaan ini disebut sebagi dunia ide (the world of idea). Sedangkan Aristoles bersikukuh bahwa konsepsi lahir dari persepsi. Tanpa adanya persepsi, konsepsi tidak akan hadir. Pandangan aristotel ini disebut-sebut sebagai pilar perkembangan pengetahuan modern walaupun, metode keilmuannya disempurnakan pasca masa renaissance abad ke-14 di Eropa kontinental. Aristotel mengembangkan metode observasi didalam mengonsepsikan sesuatu. Didalam observasi itulah manusia mempersepsi sesuatu.  Dapat disimpulkan dari kedua filosof tersebut bahwa, Plato beranggapan bahwa konsepsi lebih dahlu muncul dari persepsi sedangkan Aristotle berpandangan sebaliknya, konsepsi muncul dari persepsi.

Perdebatan mengenai persepsi dan konsepsi muncul kembali pada awal masa-masa modernitas melalui perdebatan panjang antara rasionalisme dan empirisisme. Kedua aliran filsafat tersebut sangat bertolak belakang dalam memandang sumber pengetahuan. Rasionalisme memandang bahwa rasio merupakan sumber utama pengetahuan dan dengan demikian rasionalisme cenderung mengutamakan konsepsi daripada persepsi. “Cogito ergo sum,” demikian tegas Descartes. Jargon rasionalisme ini mewakili pentingnya rasio (cogito/consciousness) dalam mendapatkan pengetahuan. Dengan demikian, kaum rasionalis seperti Descartes akan beralasan konsepsilah yang mempengaruhi persepsi. Lebih jauh, Descartes tidak percaya akan persepsi (lengkap dengan alat-alat pengindranya) karena ia meyakini bahwa kenyataan kerap mengelabui (deceiving).

Disisi lain, empirisisme bersikukuh bahwa fakta empiris merupakan sumber utama pengetahuan. Bagi kaum empirisis seperti John Locke, Berkeley, dan Bacon, apa yang dapat terindra oleh panca indra (human sense) adalah hal yang benar. “Esse est percipi,” ungkap Berkeley, yang menjadi jargon empirisis. Apa yang ada adalah apa yang dapat dipersepsi (diindra). John Locke juga menyatakan hal senada. Dia mengklaim bahwa manusia awalnya seperti kertas kosong (tabula rasa) dan kenyataan empiris-lah yang membentuk kesadaran dan pengetahuan manusia. Dengan demikian, kaum empirisis lebih mengutamakan persepsi daripada konsepsi.

Dari dua penjabaran pertentangan filosofis diatas, terlihat dua kekurangan baik disisi pihak yang mendahulukan konsepsi maupun pihak yang mendahulukan persepsi. Tidak dapat dielakkan bahwa manusia memiliki kemampuan berpikir dan kemampuan mengindra. Kemampuan inilah yang membuat manusia menjadi berkembang dan mengembangkan peradabannya (tidak pernah terdengar adanya hewan yang memiliki peradaban karena hewan hanya memiliki alat pengindra). Kemampuan akal manusia memang sangat menakjubkan. Manusia dapat menarik kesimpulan atas beberapa hal yang mungkin terjadi (pilihan-pilihan) dengan cepat. Mungkin hewan juga memiliki kemampuan serupa dengan mengandalkan insting pertahanan hidup, akan tetapi, kemampuan akal manusia lebih kompleks. Disisi lain, kemampuan akal tanpa hadirnya persepsi tentang kondisi factual juga bernada absurd. Seseorang dapat saja (dengan mengandalkan kemampuan akalnya) berkata bahwa ia baru saja melihat telur kuda, akan tetapi, kondisi faktualnya tidak ada satupun kuda yang bertelur. Jadi, persepsi dan konsepsi tidak dapat berjalan satu tanpa lainnya.

Agaknya dalam filsafat modern, Kant muncul sebagai pahlawan dalam menengahi perseteruan antara rasionaslime dan empirisisme (konsepsi dan persepsi). Dia beranggapan bahwa kebenaran adalah perpaduan antara kemampuan akal dan pengindraan. Kant meyakini bahwa kebenaran mengenai sesuatu terdapat didalam sesuatu itu sendiri (das ding an sich). Apa yang nampak oleh panca indra manusia adalah fenomena. Hakikat/kebenaran dari fenomena itu (atau yang ia sebut sebagai noumena) terletak pada fenomena itu sendiri. Jadi, apabila kita ingin mengetahui hakikat dari kursi, kita perlu mem-persepsi-kan kursi itu lalu melakukan penyimpulan (konsepsi). Cara sebaliknya pun dapat dilakukan, kita dapat memulai dengan konsepsi mengenai kursi terlebih dahulu, baru melakukan cross-check kebenaran konsepsi-konsepsi kita mengenai kursi. Cara yang pertama disebut dengan induktif, cara yang kedua disebut dengan deduktif.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa hubungan persepsi dan konsepsi adalah hubungan yang saling mempengaruhi (resiprokal). Hubungan ini tidak diartikan secara linear (persepsi-konsepsi atau konsepsi-persepsi) akan tetapi dipahami sebagai proses yang dialektis yang terjadi dalam keadaran manusia. Cogito ergo sum dan esse est percipi perlu dipahami sebagi dua proses yang berjalan bersamaan sehingga , mengutip kata-kata Marx, manusia dapat berpikir dengan kepala dan berjalan dengan kaki, dan bukan sebaliknya.

Leave a comment

Filed under Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s