Modernisme VS Postmodernisme Linguistik Terapan: Sebuah Jalan Tengah

Modernisme VS Postmodernisme Linguistik Terapan: Sebuah Jalan Tengah

Laporan Membaca Artikel Albert Weidenmann “The Redifinition of Applied Linguistics: Modernism and Postmodernism Views”)

Oleh Hendra Nugraha

 

 

Postmodernisme hadir didalam khasanah pemikiran filsafat sebagai reaksi atas positivisme yang berusaha “mempositifkan” semua bidang keilmuan. Kecurigaan atas segala sesuatu yang bersifat mapan dalam filsafat telah dimulai sejak nietzsche memaklumatkan “kematian tuhan” sebagai simbol supremasi absolutisme. Bersamaan dengan “pembunuhan tuhan” ini nietsche juga memalu (sesuai dengan slogannya “befilsafat dengan palu”) pemikiran-pemikuran filsafat yang dianggap mutlak, valid dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Adalah Habermas yang menekuni skeptisisime Nierzschean dan menggabungkkanya dengan kritisisme Marx.

Dalam pandangan Habermas, ilmu pengetahuan didalam positivisme bersigat mutlak, anti-kritik, dan mengecilkan kemanusiaan (dehumanisasi). Modernisme yang sekiranya mampu memberi ruang bagi kemanusiaan nyatanya justru memojokkan manusia sebagai objek. Sekiranya metode positivisme diterapkan dalam ilmu-ilmu alam (naturweisenscaften) mungkin lebih tepat sasasran akan tetapi menggunakan positivisme untuk bidang-bidang humaniora (geistweisenscaften) memang bukan hal yang bijak. Klaim modernisme (yang terwakili oleh positivisme) atas “ke-bebas-nilai-an” ilmu pengetahuan juga mengindikasikan adanya kepentingan-kepentingan yang “bermain” sehingga menjadikan ilmu pengetahuan sebagai “kesadaran palsu” dan “metafisika baru” yang anti kritik.

Sekiranya hal demikianlah yang menjadi perhatian Weidenmann didalam tulisannya “The Redifinition of Applied Linguistics: Modernism and Postmodernism Views. Weidenmann berusaha untuk memetakan perkembangan linguistik terapan baik secara filosofis maupun secara teknis berdasarkan hasil-hasil tulisan sebelumnya mengenai linguistik terapan dan pengajaran bahasa. Dia (weidenmann), memulai dengan prasangka adanya hal yang luput dari cara pandang modernisme dalam bidang linguistik terapan. Dia juga membagi perkembangan linguistik terapan menjadi 6 tradisi: linguist/behavioris, model paradigma linguistik yang diperluas, model multi disiplin, penelitian pemerolehan bahasa kedua, konstruktivisme, dan post-modernisme. Berikut penjabarannya atas tradisi/model tadi.

Awalnya, penelitian linguistik menggunakan metode linguistik yang disebut audio-lingual. Salah satu ciri dari model ini dalam penajaran bahasa adalah pengujian bahasa dan penilaian. Metde ini menganjurkan adanya penerapan langsung deskripsi teori bahasa kedalam pengajaran bahasa. Weidenmann mengutip beberapa penulis lain yang mengisyratkan bahwa model ini, yang juga disebut sebagai generasi pertama linguistik terapan, memisahkan antara bahan ajar (bahasa) dengan peserta didik, dan dengan demikian, model ini hanya mengacu pada teori bahasanya saja. Penerimaan tanpa kritik ini tentu saja membawa pengajaran terlalu kaku dan, seperti klaim para postmodernis, menjadikan manusia sebahai objek pasif semata.

Lalu weidenmann melanjutkan dengan model yang kedua yang merupakan mediasi atau kelanjutan dari tradis yang pertama. Tradisi yang kedua ini disebut sebagai model paradigma linguistik yang diperluas (extended linguistics paradigm model). Model ini mengisyaratkan adanya “penerjemahan” atas teori-teori linguistik kedalam teknis pengajaran bahasa. Ha ini disebut sebagai mediasi antara teori dan praktik (tema khas modernisme dan postmodernisme). Generasi kedua linguistik terapan ini menganggap bahasa bahsa merupakan fenomena sosial yang dapat diterjemahkan sehingga dapat dipahami oleh pembelajar bahasa. Walaupun terdengar humanistik, model ini sebenarnya hanya “mengamini” apa yang telah tertuang didalam teori-teori linguistik.

Model yang kedua diatas telah mengilhami hadirnya model ketiga yaitu model multi-disiplin yang berusaha menjembatani beberapa bidang studi untuk memecahkan permsalahan bahasa dan pengajaran bahasa. Didalamnya terdapat bidang ilmu sosial, psikologi dan juga ilmu kependidikan (pedagogy). Berangkat dari model yang kedua ini, muncullah tradisi ke-4 yaitu penelitian pemerolehan bahasa kedua. Tradisi ini menganjurkan agar dibuat design yang memungkinkan pengajar-bahasa asing-sebagai- bahasa-kedua menyampaikan bahan ajar denganm lebih komunikatif. Pandangan ini beranggapan bahwa dibutuhkan berbahai pendekatan maupun teori-teori linguistik untuk menjadikan pengajaran bahasa menempatkan kompetensi komunikasi sebahai kemampuan berbahasa. Cara pandang ini juga hadir sebagai reaksi dari keterputusannya bahasa dari konteks sosial dan rendahnya tingkat kompetensi komunikasi didalam tradisi linguistik tradisional, struktural, mupun transformasional grammar-nya Chomskyan.

Model/tradisi/generasi ketiga dari linguistik terapan adalah konstruktivisme. Konstruktivisme memandang bahasa merupakan pengethuan yang disusun secara interaktif. Tradisi yang terakhir dari linguistik terapan adalah postmodernisme. Tradisi ini memberi perhatian lebih atas relasi politik dalam pengajaran dan kemjemukan yang beragam. Nampaknya weidenmann membrik ruang yang lebih banyak menganai hal ini didalam tulisannya. Dia, pada beberapa hal, banyak mengutip karya Penny cook yang bertopik linguistik terapan kritis (critical applied linguistrics). Linguistik terapan kritis (LTK) turut memasukkan analisis wacan, kekuasaan, dan politik didalam pengajaran kebahasaan. Hal ini didasari bahwa tidak ada sesuatupu ynag bebas nilai, semua hal didorong oleh relasi kuasa dan pengetahuan. Penny cook sendiri telah menggariskan pemikirannya mengenai bahasa inggris yang menjadi perangkat kolonialisme diberbagai tempat dibelahan bumi. Pennycook juga menyarankan multiperspektif dalam pengaharan bahasa. Kedua hal tadi bertujuan agar identitas pembelahar bahasa tidak ikut masuk melesap seiring terserapnya bahan ajar bahasa asing. Dengan demikian, LTK mengisyaratkan adanya patahan (diskontinuitas) didalam linguistik terapan dan pengajaran bahasa dimana definisi-definisi linguistik terapan didalam modernisme telah gagal dalam memberikan makna keilmiahan yang rasional.

Konsep LTK yang memberikan ruang bagi kemajemukan dipandang sebagai relativitas yang sangat diharamkan oleh para modernis. Kedua kubu ini, seperti yang terjadi diberbagai bidang ilmu yang, sangat bertolak belakang. Modernisme menghendaki adanya ilmu pentetahuan yang mutlak, terukur, valid, dan universal. Disisi lain, postmodernisme menghendaki adanya pluraritas, ke-lokal-an, dan relatif. Bagaimanapun, weidenmann melanjutkan analsisnya pada penerapan yang ia sebut sebagai post-method yaitu penyusunan atas metode pengajaran bahasa secara independen oleh guru bahasa. Hal ini tentu saja menarik karena sebagian besar pengajaran bahasa menggunakan buku teks yang diproduksi secara massal dan belum tentu bahan ajar tersebut sesuai dengan kondisi lokal dari peserta ajar.

Sebagai penutup, weidenmann mengarahkan apda proses perancangan dasar pengajaran bahasa yang mampu untuk menutupi kekurangan dari cara pandang linguistik terapan modern dan postmodern. Desain dari pengajaran bahasa harus dapat merangkum totalitas aspek/fungsi/fimensi/mode pengalaman: kinematik, fisik, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, dan etika. Keselurahan dari aspek/fungsi/fimensi/mode pengalaman tersebut bertujuan untuk menciptakan desain yang akuntable, terukur, valid dan juga mencakup situasi spesifik dari peserta ajar. Baik cara pandang modernisme maupun postmodernism memberikan kontribusi yang setara bagi perkembangan linguistik terapan dan juga pengajaran bahasa.   

 

Leave a comment

Filed under Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s