Teori dan praktik Linguistik Terapan: Tentu Saja Sebuah Dialektika

Teori dan praktik Linguistik Terapan: Tentu Saja Sebuah Dialektika

(Laporan Membaca Artikel Robert de Beaugrande)

Oleh: Hendra Nugraha

 

 

 

Letak ilmu sudah seharusnya berada dipihak manusia. Sevalid apapun sebuah ilmu, jika ia tidak mampu memberikan faedah bagi manusia dan kemanusiaan, maka ia akan tenggelam dan sirna dari peradaban. Demikian pulalah Linguistik Terapan (LP), sebagai bidang keilmuan, LP memiliki tantangan untuk tetap dapat hidup dan berkembang dalam khasanah pemikiran manusia, bukan hanya dari segi teoretis, akan tetapi juga sebagai bagian integral dari perkembangan peradaban manusia.

Sebelum menjadi layak dan bermanfaat, ilmu pengetahuan harus diuji kesahihannya agar segala tidakan yang mengacu atas ilmu tersebut tidak salah terap dan berfaedah. Agaknya, hal inilah yang menjadi kekhawatiran dari Penulis Theory and Practice in Applied Linguistics: Disconnection, Conflict, or Dialectic?, Robert de Beaugrande (RB).

RB memulai dengan memisahkan antara pekerjaan lapangan (fieldwork) dan pembelajaran pustaka (homework). Pekerjaan lapangan dibidang linguistik mencakup dengan pengumpulan data dari kegiatan nyata didalam masyrakat yang berhubungan dengan bahasa. Bidang ini mensyaratkan adanya perpaduan antara unsur-unsur non-kebahasaan yang saling berjalin kelindan dengan praktik berbahasa seperti budaya, sosial-ekonomi, dan politik. Dari bidang ini, hadirlah teori yang mengacu pada data (data-driven theory) dan praktik (practice-driven theory).

Dilain pihak, pembelajaran pustaka hanya mengkaji ulang hasil pekerjaan linguistik lapangan yang telah ada, data-data didalam naskah-naskah, dan teori-teori yang telah disimpulkan sebelumnya. Sehingga, tidak dibutuhkan adanya penceburan diri pekerja linguistik kedalam lingkup kegiatan nyata berbahasa dimasyarakat karena pekerja linguistik hanya perlu berasumsi mengenai cara berpikir pembicara asli (native speaker). Dari pembelajaran pustaka ini hadir teori yang mengacu pada teori sebelumnya (theory-driven theory).

 

Kemudian RB berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan lapangan linguistik dan pembelajaran bahasa yang kontroversinya telah dimulai pada tahun 1944 dan 1976 oleh Kenneth Lee Pike. Pike menyebut teorinya sebagai metode monolingual dimana pekerja lapangan linguistik (PLL) akan bekerja ditengah-tengah masyarakat dan mengamati serta mengajarkan bahasa berdasarkan dari hasil penelitiannya. Adapun syarat-syarat bekerja dengan metode ini adalah:

  1. PLL tidak didampingi oleh guru yang terlatih karena dengan ketidakhadiran guru tersebut, pekerja lapangan linguistik akan mendapatkan lebih banyak data langsung dilapangan.

  2. PLL harus menyusun sendiri korpus data secara sistematis.

  3. PLL merupakan orang dewasa yang berpendidikan yang mampu menempatkan diri secara bijak ditengah-tengah pelajar, anak-anak maupun orang dewasa, dan memberikan input yang tepat bagi peserta didik.

  4. PLL haruslah sangat terlatih untuk merekam tuturan-tuturan dengan simbol-simbol fonetis.

  5. PLL harus mampu menceburkan diri dalam kebudayaan setempat.

  6. PLL harus paham teori-teori linguistik sebelum melakukan pekerjaannya.

  7. Hasil dari pekerjaan PLL perlu dirancang untuk disajikan secara akademis.

 

Pekerjaan yang dilakukan oleh PLL ini menjadi penting ketika dihadapkan pada situasi belajar mengajar dengan kondisi yang beragam. Dengan adanya pelesapan budaya, PLL akan lebih mudah untuk mengajarkan perbedaan-perbedaan satu bahasa dengan bahasa lain. Pengajaran tense didalam bahasa Inggris misalnya, akan lebih mudah dengan membandingkannya dengan kondisi lokal karena tidak semua bahasa memiliki sistem pengaturan bahasa yang berdasarkan waktu.

Selain itu, pekerjaan ini akan menghindarkan dari sistem pembelajaran yang kaku yang berdasar atas buku-buku teks. Dengan menjalankan metode ini, pengajar dapat memahami tingkat penerimaan pengetahuan peserta didik dan meningkatnya sesuai dengan perkembangan mereka. Lebih jauh, pengajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua (second-language) tidak serta merta melahap bahasa pertama (first-language) yang mungkin saja bagi negara-negara post-kolonial akan membangkitkan sentimen dan mental kolonial.

PLL juga dapat menambah korpus linguistik, terutama dibidang pengajaran bahasa sebagai bahasa kedua. Kemudian, teori yang disimpulkan dapat kembali diterapkan dalam kondisi pembelajaran dan hal ini akan meningkatkan, tidak hanya pengembangan keilmuan, akan tetapi juga pekerjaan pengajaran. Melalui dialektika dari proses ini, PLL akan dapat memberikan terang bagi para pengajar lain dalam sebuah pelatihan atau semacamnya.

Pejelasan lain yang dikejar oleh RB adalah mampukah PLL atau Pembelajaran Pustaka (PP) menjawab tantang proses dialektika diatas. RB menunjukkan bahwa PP, dengan mengambil contoh Chomsky yang berusaha mengisolasi bahasa dari praktik nyata dalam melakukan penelitian, tidak mampu menjawab permsalahan teknis, misalnya pengejaran morfologi dan fonologi yang membutuhkan analisis lapangan yang mendalam dan kongkrit.

Alih-alih menyelesaikan persoalan mendasar tadi, Chomsky berteori bahwa yang menjadi masalah dalam pemerolehan bahasa adalah data primer yang dapat diambil dari peserta didik dan kemudian dianalisis didalam kerangka bahasa sebagai hal bawaan (innate idea). RB menegaskan disini, bahwa practice-driven theory mampu memecahkan masalah pembelajaran bahasa kedua melalui PLL sedangkan data-driven theory atau pun theory-driven theory belum tentu melakukannya.

Lalu RB menyajikan sebuah kasus Krashen, seorang linguis yang mendukung gagasan-gagasan Chomsky. Alih-alih mengkritisi cara pandang Chomskyan, Karshen justru terjebak dalam kekeliruan yang serupa, yaitu berusaha melepaskan bahasa dari praktik nyatanya. Dia juga mengalihkan tantangan yang diberikan oleh PPL dengan istilah-istilah abstrak seperti pemerolehan bahasa dapat berjalan otomatis dan dibawah kendali alam bawah sadar serta perangkat pemerolehan bahasa menyangkut kinerja organ-organ mental. Istilah-istilah ini masih terlalu abstrak untuk dapat disebut sebagai linguistik terapan sehingga apabila hendak diterapkan dalam proses nyata pengajaran bahasa tidak mungkin mendapatkan hasil yang optimal.

Sebagai kesimpulan, mengacu pada judul artikel yang ditulis oleh RB, pekerjaan linguistik lapangan merupakan cara terbaik untuk menghasilkan korpus linguistik karena berisi kondisi nyata dari bahasa sebagai bagian konkrit dari masyarakat. Pertentangan didalam pembangunan sebuah teori hendaknya dipahami sebagai dialektika yang mengembangkan ilmu pengetahuan demi manusia dan kemanusiaan.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s